Selasa, 24 Juli 2018

PERLUNYA INOVASI TATA CARA PEMBAGIAN SEMBAKO DI DS. AMBAT KEC. TLANAKAN KAB. PAMEKASAN

24 Juli 2018 (Pamekasan). Kala itu kami kelompok 87 KKN (Kuliah Kerja Nyata) Tematik UTM (Universitas Trunojoyo Madura) 2018 sedang menjalankan pengabdian di masyarakat ds. Ambat Kec. Tlanakan Kab. Pamekasan. Saat itu kami sedang jadwal piket jaga balai desa yang kebetulan hari itu bertepatan dengan kegiatan pembagian sembako untuk masyarakat ds. Ambat. Saat itu kami datang pukul 09.00 WIB dan bertemu saudara kami yang sedang KKN juga dari IAIN Pamekasan yang juga piket dihari itu. Setelah kami datang di balai desa kami duduk santai dan ngobrol ringan diskusi ala mahasiswa dengan saudara kami dari perguruan tinggi IAIN Pamekasan tersebut. Hingga sekitar pukul 10.00 WIB datanglah dua truk pengangkut sembako bertuliskan Bulog dengan berat per karung 10kg.
Para petugas dari aparat desa pun menyambutnya dan terjadi
perbincangan yang tidak kami dengarkan. Tak lama perbincangan tersebut usai dan para pekerja yang keluar dari truk tersebut memindahkan karung-karung beras dari truk ke balai desa. 5 tumpukan karung beras yang serasa berat dipikul para pekerja dari truk ke balai desa. Sesaat berlangsungnya proses pemindahan karung tersebut keluarlah air mineral 1 kardus ber merk GH. Sambil lalu para aparat desa yang bertugas saat itu sekitar 2 orang membawa secarik kertas dan sebatang pulpen dijarinya melakukan sebuah pencatatan entah seperti apa. Kami (peserta KKN) pun merada iba melihat hal itu dan muncul keinginan untuk membantunya, namun melihat banyak juga yang duduk santai kami berfikir ulang bahwa para pekerja sudah pastinya dapat gaji dari pekerjaan tersebut sehingga kita mengurungkan niat untuk membantu pemindahan tersebut. Sambil melihat kegiatan tersebut kami melanjutkan diskusi kita sampai akhirnya 1000 karung beras bulog sudah tertata rapi di balai desa.
Kami pun terpanggil mendekati aparat desa yang seolah-olah memebri kode kita untuk mendekat ke mereka. 4 mahasiswa dari UTM yang terdiri dari 2 lelaki dan 2 perempuan serta 2 mahasiswa dari IAIN Pamekasan yang masing-masing lelaki dan perempuan berbincang dan menerima arahan dari aparat desa. Briefing secara matang pun terjadi dan betapa kagetnya kita mendengar arahan dari aparat desa yang mana menurut kami ini akan menjadi pekerjaan yang kurang efektif dan efisien. Data penerima sembako pun diperlihatkan oleh aparat desa ke kami. Data tersebut barusan diperoleh dari Bulog oleh aparat desa. Sayangnya data tersebut tidak sesuai dengan tata cara yang akan digunakan dalam pembagian sembako tersebut, dikarenakan data tersebut tidak digolongkan berdasarkan dusun yang ada, tidak urut dari nomor KK yang ada dan hanya urut penomoran biasa. Sedangkan tata cara yang diinginkan oleh aparat desa adalah pembagian sembako per dusun dimulai dari dusun yang terdekat dari balai desa hingga terjauh dari balai desa.
Alhasil dari itu para mahasiswa mendata ulang dengan penggolongan per dusun berdasarkan data yang ada. Sayangnya proses pendataan sekitar 500 orang tersebut belum selesai dan sudah terdapat masyarakat yang sudah datang untuk mengambil hak mereka (sembako). Sehingga data dusun yang sudah terekap oleh mahasiswa diserahkan ke aparat desa tersebut. Mekanisme yang digunakan adalah seperti berikut :
Sambil melakukan kegiatan tersebut mahasiswa tetap melanjutkan melakukan pendataan ulang yang digolongkan per dusun untuk diserahkan ke aparat desa yang hanya berjumlah 2 orang saat itu.
            Saat awal kegiatan tersebut tergolong lancar dan tertib. Personil yang ada saat itupun dibagi sedemikian rupa agar kegiatan tersebut lancar dan tertib. Lambat laun kegiatan tersebut mulai tidak kondusif, dengan personil yang menurut saya tergolong sedikit menjadi salah satu penyebab tejadinya kegiatan tersebut tidak kondusif ditambah lagi kita harus bergantian untuk melaksanakan ibadah sholat duhur. Para Kasun (Kepala Dusun) pun mulai berdatangan ke balai desa untuk membantu kegiatan tersebut dan kami pun meminta bantuan ke teman kita yang sama-sama melakukan KKN untuk turut membantu menyukseskan kegiatan tersebut agar lebih kondusif lagi. Satu per satu mahasiswa pun datang turut membantu.
            Kami sadar kekurangan personil bukanlah satu-satunya penyebab tidak kondusifnya kegiatan pembagian tersebut. Manajemen dan tata cara pembagian sembako yang kurang tepat pun menjadi penyebab dari hal tersebut. Penempatan stakeholder yang terlibat pun tergolong buruk ditambah peralatan dan perlengkapan yang kurang memadai memperburuk keadaan yang ada. Penempatan tempat pemberian nomor kepada masyarakat dengan pendataan masyarakat lewat tanda tangan pun tergolong sangat dekat sehingga membuat masyarakat saling berdekatan dan membuat para petugas kewalahan menertibkan masyarakat. Tidak terdapatnya pengawas dan keamanan dalam hal ini juga memperburuk keadaan. Hal ini juga memicu terjadinya kecurangan dalam pengambilan jatah sembako yang ada dikarenakan petugas yang berada di pengambilan sembako tidak mengetahui mana masyarakat yang sudah melakukan proses tanda tangan.


   
Penyebab yang lain dari terjadinya pembagian sembako yang tidak kondusif adalah karakteristik masyarakat. Karakteristik masyarakat tersebut seperti tidak mau antri, tidak sabar, tidak paham instruksi yang diberikan petugas, pengambilan yang diwakilkan ke orang lain. Tidak mau antri ini menyebabkan pembagian sembako menjadi tidak kondusif dikarenakan masyarakat saling mendahului dan berfikir yang terpenting saya mendapatkan sembako. Hal ini menyulut orang lain iri dengan keadaan tersebut dan mencoba juga untuk mendahului yang lain. Tidak sabarnya masyarakat untuk menunggu dan antri juga iri dengan peserta yang datangnya belakangan tapi dilayani petugas terlebih dahulu karena kelalaian petugas juga terkadang membuat menjadikan penyebab masyarakat marah. Tak sedikit masyarakat yang meluapkannya dengan memarahi petugas dan berkomentar pedas. Tidak pahamnya masyarakat akan instruksi dan mekanisme yang ada juga memperhambat kegiatan ini, seperti proses tanda tangan yang seharusnya dilakukan dua kali melainkan hanya dilakukan satu kali membuat petugas harus memanggil ulang penerima sembako tersebut dan hal ini menjadikan proses pembagian sembako menajdi tidak kondusif. Diwakilkannya pengambilan sembako ke orang lain membuat penerima sembako harus melakukan proses beberapa kali dan kerap membuat petugas menjadi bingung.

Tidak rapinya parkir oleh masyarakat dan berserakannya sembako yang sudah diambil membuat tak sedap mata memandang. Hal ini juga memicu keributan terjadi di tempat parkir dikarenakan masyarakat yang keluar masuk balai desa.


            Kegiatan tersebut pun berakhir menjelang maghrib. Setelah kegiatan tersebut kami melakukan evaluasi dan memberikan beberapa saran kepada desa dan aparat desa. Saran tersebut sudah disampaikan ke aparat desa setempat. Saran tersebut seperti melakukan pendataan penerima sembako jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan kegiatan tersebut digolongkan per dusun. Sistem pembagian dapat dilakukan dengan sistem kupon, yaitu masyarakat melakukan registrasi sebelum hari pelaksanaan di salah satu rumah aparat desa yang ditentukan untuk mendapatkan kupon. Saat pelaksanaan tinggal menukarkan kupon tersebut dengan sembako. Hal ini difungsikan untuk memudahkan proses pembagian sembako.

1 komentar: